Monday, August 20, 2012

Serial HUT RI (2) : Yogya, Aceh dan Hari Kemerdekaan RI

Pilar demokrasi yang digerogoti tikus berdasi juga ikut merusak sendi-sendi kebudayaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kearifan budaya lokal. Kita semua tahu bahwa dibalik ngototnya pusat untuk menjadikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipilih melalui sidang DPRD DIY sesungguhnya bukan dari niatan murni menjalankan demokrasi seutuhnya, atau memberikan pelajaran berdemokrasi kepada rakyat Yogyakarta Hadiningrat, tapi ada motif-motif penguasaan sumber daya ekonomi daerah disana. 

Beberapa sumber daya ekonomi milik Kraton Ngayogyakarta Hadinigrat hendak dipindah-tangankan lewat mekanisme perundang-undangan Pemerintahan Daerah, dan dijalankan dengan menjadikan pemilihan Gubernur DIY seolah sebagai pembelajaran kepada rakyat Yogya agar mengikuti 'cara demokratis' pemilihan Gubernur lewat sidang pemilihan DPRD.  Model pemaksaan demokrasi yang punya niat busuk tanpa mempertimbangkan sejarah keistimewaan DIY sebagai bekas Ibukota Republik, dan peran Kraton Yogyakarta dalam perjuangan mempertahankan proklamasi Kemerdekaan RI,  juga figur sentral Sultan Hamengkubuwono IX dan X sebagai Raja 'de Facto' bagi rakyat Yogya jelas melukai jiwa dan semangat ke-Indonesiaan bagi seluruh rakyat DIY. Disinilah para perencana pemerintahan mestinya mampu bersikap arif dalam melihat kepentingan pelaksanaan demokrasi seutuhnya dengan pemahaman terhadap identitas budaya lokal yang semestinya tidak diabaikan begitu saja. 
Wajar jika kemudian gejolak mempertahankan identitas Istimewa bagi DIY dan pemilihan lewat mekanisme penunjukan langsung bagi Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja dan Gubernur DIY menjadi pilihan hidup-mati bagi rakyat Yogya. Rakyat melihat bahwa yang terjadi adalah pertarungan SBY dan Sultan Hamengkubuwono X yang hendak dipaksakan menang oleh otoritas berkuasa. Sultan hendak dijadikan sebagai simbol budaya saja, dan tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan Pemeritahan Daerah yang nantinya bakal sarat kepentingan. Disitulah masalahnya. Sampai saat ini perjuangan mempertahankan status Istimewa bagi DIY dan mekanisme penunjukan langsung Gubernur masih menjadi concern utama bagi rakyat DIY. Dalam sikap yang paling ekstrim, rakyat DIY lebih memilih merdeka seperti perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dulu di Aceh (yang juga sarat persoalan ketersinggungan terhadap identitas budaya lokal-kedaerahan dan penguasaan sumber daya ekonomi), namun lewat jalur yang lebih lembut, seperti perlawanan budaya. 

Pawai-pawai allegoris budaya dan penolakan terhadap penghapusan status Istimewa bagi DIY menjadi topik hangat yang dapat memunculkan instabilitas kawasan. Yogyakarta sebagai salah satu daerah istimewa merupakan etalase budaya nusantara, yang menyimpan berjuta makna bagi berdirinya negara RI. Tempat bernaung bagi sekian banyak pendatang yang menuntut ilmu di Yogyakarta namun tetap menjunjung tinggi identitas nasional berlandaskan integritas budaya lokal Yogyakarta. Entahlah, disadari atau tidak hal crucial ini oleh para perancang pemerintahan pusat.

Kehendak yang memaksakan berjalannya demokrasi prosedural sempit tanpa pertimbangan kedaerahan akan berakibat kontra produktif bagi perkembangan demokrasi itu sendiri, khususnya di wilayah DIY. Apalagi jika pemaksaan lewat jalur kekerasan struktural yang menggunakan alat-alat negara, tentunya hal tersebut bukanlah sebuah pilihan bijak, walau kita tahu beberapa pihak di Jakarta menginginkan hal tersebut. Pelajaran pahit  'Perang Aceh' (GAM vs TNI-Polri) yang melelahkan hendaknya dijadikan landasan pijak bagi para perancang kebijakan.

Membiarkan Yogyakarta, Kraton, Sultan dan rakyat DIY tetap dalam satu kesatuan budaya dan integritas kedaerahan adalah pilihan paling bijaksana agar identitas budaya nasional tetap mempunyai akar pijakan dan tali temali yang kuat dengan berbagai identitas budaya lokal. Pelaksanaan demokrasi yang benar pastilah akan melihat pula aspek keutuhan budaya nasional yang semestinya ikut dipertahankan, agar gema peringatan Hari Kemerdekaan dari tahun ke tahun mempunyai makna yang semakin penting dihati sanubari segenap rakyat dari Sabang sampai Merauke. Hendaknya jangan sampai peringatan Hari Kemerdekaan kita ditandai dengan ganjalan hati dan gerutuan dibelakang panggung terhadap kerakusan segelintir elit nasional yang melulu melihat kepentingan penguasaan sumber daya ekonomi daerah. 

-Pril Huseno-  



  

Sunday, August 19, 2012

Serial HUT RI (1) : Yogya, Aceh dan Kemerdekaan RI

Hari ulang tahun kemerdekaan RI ke 67 kali ini diwarnai kegamangan saat pidato presiden RI dalam rangka menyambut 'Agustusan' yang menyebutkan keprihatinan beliau terhadap makin merebaknya korupsi di segala lapisan penyelenggara pemerintahan. Disebut pula 'kroni' tiga pilar demokrasi : Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif  dalam mengabadikan budaya korupsi yang semakin susah diberantas.

Entah sengaja atau tidak, dihari-hari menjelang tanggal 17 Agustus 2012, Antasari, mantan ketua KPK yang menjadi narapidana kasus pembunuhan Nasruddin, seorang Direktur perusahaan swasta di Jakarta, tiba-tiba menyebut SBY lah yang mempimpin rapat untuk mem 'Bail-Out' Bank Century sebesar Rp. 6,7 Trilyun dalam beberapa tahap pencairan uang. Informasi yang diblow-up Antasari tersebut kemudian menjadi 'trending topic' yang membuat heboh dunia hukum dan menggoyang langgam antikorupsi yang didengung-dengungkan pemerintah. Walau kemudian ada klarifikasi dari presiden untuk masalah tersebut, namun publik sudah terlanjur beranggapan (dan menjadi rahasia umum) bahwa masalah Bank Century memang masalah seputaran Istana, yang KPKpun dibawah Busyro Muqoddas tersungkur, dan harus merelease berita bahwa tidak ada korupsi dalam kasus Bank Century. "Tai kucing apalagi ini..?" kata alm.Rendra dalam sebuah puisinya. 

Dan lalu orang seolah tergelak geli ketika presiden menyatakan keprihatinannya dengan menyebut korupsi sebagai kejahatan luar biasa yang telah menjadi benalu dalam perjuangan anti korupsi yang melibatkan tiga lembaga pilar demokrasi di atas. Dihubungkan dengan statement Antasari yang bak pepatah 'melempar kotoran dimuka awak'. Antasari bukan lagi sebagai 'whistle blower' tapi sudah sebagai 'the man who throwing dirt  into the faces of  some guy'. 

Hal yang saya sebut diatas adalah masalah krusial yang dialami negara ini pada dekade terakhir. Bagaimana korupsi di era kepemimpinan sekarang telah menjadi wabah yang semakin meluas, brutal dan tidak tahu malu. Pilar-pilar demokrasi yang seharusnya menjadi alat negara- bangsa untuk ikut berperan dalam pemberantasan korupsi berubah menjadi sarang penyamun yang ikut berebut rejeki haram dari para bandit berdasi. Tidak tahu malu karena sebagian pelaku kejahatan luar biasa itu adalah para kader partai yang tengah berkuasa dengan presiden sebagai Ketua Dewan Pembina. Lalu mendekati Hari Kemerdekaan RI yang ke 67 Antasari meledakkan peluru yang menghebohkan itu. Lengkap sudah derita tidak tahu malu yang diusung partai berkuasa.

Brutal dan tidak tahu malu karena para anggota legislatif dan yudikatif juga berbuat hal senada. Anggaran negara yang disahkan oleh Badan Anggaran DPR tidak akan clear kalau tidak ada janji 'apel-apel' yang bertebaran keluar dari mulut mungil Angelina Sondakh, si pesakitan KPK. Walau setengah mati tidak mengaku di sidang pengadilan, namun tetap saja janda cantik itu merasakan dinginnya sel penjara KPK dan sekarang mendekam dalam sel tahanan wanita Pondok Bambu. Lalu apa yang harus disukuri dari serangkaian perkara korupsi yang berujung pada pemenjaraan kelompok elit DPR dan Kehakiman dalam memaknai Hari Kemerdekaan ? 

Kalau Anas Urbaningrum berani menantang orang nomor satu di republik ini tentulah karena dia tahu benar, dan pasti memegang kartu-kartu truf jitu untuk menghantam balik, karenanya, kita kemudian bisa melihat kemesraan kembali Anas dengan jajaran pengurus partai berkuasa termasuk lingkaran istana.

Negara dengan usia 67 tahun ini sesungguhnya sedang gamang menghadapi hari depan dengan menggilanya kasus korupsi dari pusat sampai daerah tingkat II.

Lihatlah para Bupati, Gubernur dan Walikota, anggota legislatif, Yudikatif dan Eksekutif pelaksana roda pemerintahan masuk penjara. Seolah tidak pernah bakal berakhir. Tak pernah berakhir karena bidikan sekarangpun mengarah ke orang nomor satu dalam mencuatnya kembali kasus Bank Century. Adakah negara-negara di lingkar ASEAN saja, yang mengalami kasus-kasus korupsi mengerikan seperti yang kita alami ?

Kasus Korea Selatan dalam memberantas korupsi patut dijadikan contoh. Ribuan pegawai negeri Korea Selatan masuk penjara, Chun Doo Hwan sang mantan presiden masuk pula bui karena kasus korupsi. Kalau itu yang mau dituju oleh para pegiat antikorupsi dan KPK, maka harapan perbaikan pasti akan selalu ada.; asal tidak menjadikan patah semangat bila gagal dalam tahapannya. Jenderal-jenderal Korea Selatan juga pernah dimasukkan penjara oleh Jenderal Park Chung Hee, dalam rangka membersihkan Korea Selatan dari praktek korupsi. Jika saat ini kita melihat jenderal-jenderal di kepolisian 'melawan' dalam kasus simulator SIM, maka itu hal yang wajar dan juga sebagai batu ujian kita sebagai bangsa yang hendak lepas dari belenggu korupsi. Angka cadangan devisa RI yang katanya tertinggi dalam sejarah - 106,50 milyar dollar, menjadi tidak berarti jika kita ternyata punya hutang sampai Rp.1900 trilyun. Yang menggelikan adalah, kengerian mendengar angka hutang negara yang demikian fantastis dijawab oleh para pemikir ekonomi pemerintah bahwa kita sanggup membayar cicilan bunga dengan angka yang lebih besar setiap bulannya, karena cadangan devisa RI tertinggi dalam sejarah.  

Gurita korupsi yang membelit sendi-sendi perekonomian negara akan menggerus cadangan devisa dengan banyaknya program perbaikan infrastruktur yang rusak, rehabilitasi ekonomi daerah yang gagal didayagunakan, program penyelamatan anak bangsa yang kelaparan dan kurang gizi karena sasaran program yang tidak tepat sasaran dan niat, karena dipakai untuk kepentingan elit daerah, dan lain hal yang membajak kepentingan penggunaan devisa negara.

Sektor riil yang terengah-engah karena minimnya pembelaan pemerintah dalam melindungi industri dari serbuan barang impor Cina, dan serbuan mafia anggaran dalam penjualan aset negara BUMN strategis, yang lagi-lagi, diperankan oleh 'kroni' legislatif, yudikatif, eksekutif. Mau kemana negara bangsa ini minta perlindungan dari kejamnya gerombolan tersebut ?

Itulah menurut saya kado terbesar Hari Kemerdekaan RI ke 67 kemarin. Sebuah pekerjaan rumah bagi segenap elemen bangsa yang masih berharap dan berjuang demi terwujudnya kemakmuran rakyat dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, kecuali para bandit berdasi. Sebuah tantangan besar yang datang justru dari lingkaran 'gedung putih' istana dan gedung-gedung megah anggota terhormat legislatif dan lembaga peradilan. Ternyata, binatang pengerat itu bukan datang dari sawah-sawah para petani atau pengapnya ruang diesel industri yang dijaga para buruh dengan setia, tetapi dari gedung-gedung megah di pusat kota..

-Pril Huseno-
  
 



Thursday, August 16, 2012

DEMAM 'KOREA MINDED'


Sekarang jaman gedombrengan musik Korea. Boy Band dan Girl Band (kalau dulu disebut Vocal Group) dari Korea macam Super Junior, Girls Generation (SNSD), Shinee, FX, merajai khasanah musik impor dikalangan anak muda. Tak terbayang dulu jaman 80 atau 90- an musik-musik ‘vocal group’ dari Korea bisa penetrasi pasar begitu luas dan dalam di jiwa anak-anak SD, SMP, SMA, bahkan anak muda kampus. Dimana-mana terdengar riuhnya lagu-lagu yang dinyanyikan Sheo Hyun yang cantik jelita dkk.



Saya ikut mengamati fenomena ini. Dari musik dan lagunya biasa saja, walau anak-anak muda di kampus pun bilang kalau suara para penyanyi cewek itu enak didengar, jenaka, nggemesi katanya. Khas anak muda. Tapi yang saya lihat memang penataan background artistik musiknya begitu beragam dan variatif. Permainan warna-warni latar para penyanyi sungguh amat mempesona. Belum lagi pesona para penyanyi wanitanya. Anak sahabat saya yang masih kelas satu SMP saja sampai mengidolakan Sheo Hyun sebagai kakak kandungnya, dan memaksa ibunya untuk mengakui kalau Sheo Hyun itu anak bundanya juga. Belum lagi mendengar September mendatang group-group musik Korea ini mau pentas di Jakarta, termasuk Sheo Hyun itu. Makin gila saja anak-anak SMP dan SMA sekarang..!!



Kalau jaman saya dulu, musik korea diwakili oleh “Chick Korea” dan Jepang dengan “Kitaro”nya (para master musk Jazz kontemporer tahun 80-an, mungkin sampai sekarangpun masih. Dan pada jaman itu sungguh suguhan musik yang berwibawa dan jenius dalam penataan musik), namun sekarang group-group ABG Korea ini yang tiap hari mengusik kedamaian gendang telinga saya.

Fenomena musiman semacam group-group musik Korea itu saya pastikan nanti akan habis musim, dan berganti dengan trend musik yang lain, yang kita tidak tahu apa itu. Seperti halnya dulu tahun 1986-an dunia musik kita heboh oleh demam Breakdance, musik patah-patah tulang kata orang Maluku, yang juga merajai jiwa anak muda di jalan-jalan kota dan kampung-kampung.



Tapi mari kita sejenak melihat lebih dalam lagi, ‘perang hegemoni’ dua raksasa timur Jepang dan Korea. Dari soal musik yang jelas Jepang kalah sekarang, sampai produk-produk pabrikan seperti kendaraan bermotor, alat rumah tangga, mesin-mesin pembangkit dan traktor sak keturunannya (becho, dll), alat elektronik radio, TV, Komputer, HP dan Tablet - dua raksasa ekonomi itu masih bertarung ganas. Angka-angka perolehan volume penjualan produk-produk mereka di dalam negeri ini saling berganti menyusul, walau sampai saat ini Jepang masih sebagai pemenang dalam soal investasi, namun kecenderungan akan terus membuka angin bagi produk-produk Korea.

Lihat produk Samsung yang merajai produk HP dunia, Apple pun kalah dalam pengadilan hak cipta tablet baru-baru ini. Produk Jepang tidak begitu menonjol, apalagi dalam persaingan produk HP dan komputer. Jelas sudah agak miring oleh goyangan produk Korea, walau nama besar Sony masih disegani. Tapi kalau soal musik saja Korea sudah begitu dahsyat mempengaruhi jiwa anak-anak muda dalam menggandrungi ‘vocal group’ Korea, maka soal kemenangan Korea tinggal menunggu waktu. Apalagi sekarang semua produk budaya Korea pun mulai digandrungi, bermacam-macam pernak-pernik Korea digilai sekarang ini oleh ibu-ibu dan remaja putri.




Belum lagi ‘kekalahan’ Jepang dalam soal Mutu. Produk otomotif Jepang tahun lalu babak belur oleh penarikan ribuan produk mobil Jepang berbagai merk dari tangan konsumen, gara-gara cacat onderdil yang dapat membahayakan pemakainya. Produk otomotif Korea ? yang saya tahu amat jarang terdengar. Orang awam hanya tahu mitos bahwa mobil Jepang pasti lebih unggul dari Mobil Korea. Mobil Korea berumur tiga tahun sudah harus diganti, sedang mobil Jepang bisa tahan tanpa rewel sampai lima tahun. Kenyataannya ? penarikan-penarikan produk otomotif Jepang dari tangan konsumen itu jawabnya.

Apa yang sedang terjadi dengan bangsa Jepang ? belum lagi dihantam musibah gempa dan tsunami tahun lalu. Walau secara mental orang Jepang pasti kuat dan tabah menghadapi cobaan, namun secara ‘brand image’ Jepang sebagai bangsa kalah dan penuh musibah (sama seperti kita barangkali) sekarang sudah mulai menyeruak ke permukaan. Lihat statistik kependudukan secara demografis. Penduduk Jepang sekarang lebih banyak dihuni oleh orang tua dan jompo yang pasti tidak produktif dalam hitungan ratio laba perusahaan dan pencapaian tingkat volume produksi. Adakah pengaruh kebanyakan orang tua dan generasi non produktif sudah mempengaruhi alam bawah sadar bangsa Jepang ? hingga lalai dalam penanganan soal mutu produk Jepang yang begitu melegenda ?

Padahal dulu bangsa Jepang yang mengawali ‘mitos’ Kaizen, penjagaan mutu dari awal proses sampai dengan produk akhir. Diadopsi pula Kaizen oleh sistem mutu ISO 9000 dan dinamai ‘continous improvement’. Buruh-buruh di Amerika dan Inggrispun panik sampai membakar mobil-mobil Jepang karena takut tersaingi.

Sebagai ras bangsa kuning yang sama-sama menganut ajaran Tao, maka Jepang dan Korea, juga China (walau masih kepontal-pontal dalam soal mutu) bangsa-bangsa kuning itu memang ideal dijadikan tempat belajar dan berguru soal etos kerja/budaya kerja keras. Manajer-manajer Jepang dan Korea, terkenal ‘ganas’ dalam memimpin buruh-buruh Indonesia, tak jarang main tangan. Namun, hikmah dari sikap keras para manajer Jepang dan Korea itu, tersimpan makna besar soal sikap menghargai waktu, disiplin dan etos kerja keras yang tidak dapat ditandingi. Hal-hal itu yang seharusnya kita ucapkan terima kasih kepada bangsa-bangsa ras kuning.  



Kembali ke soal persaingan dagang Jepang dan Korea, produk otomotif Korea, secara perlahan namun pasti, mulai mendapat tempat dihati penggila otomotif Korea. Mobil-mobil second Korea sekarang diburu, terhapus sudah stigma mobil KIA yang dulu sempat anjlok gara-gara cacat onderdil, namun pabrikan Korea cepat menanggapi dan mulai memperhatikan mutu.

Kemarinpun, ‘laskar Taeguk’ Korea menekuk ‘Samurai Biru’ Jepang dalam perebutan tempat ketiga sepakbola Olimpiade London. Sepakbola Korea memang sudah sejajar dengan negara-negara kampiun sepakbola. Legenda hidup Park Ji Sun eks Manchester United menaungi marwah sepakbola Korea. Dan sekarang mumpung sedang demam Korea, maka mari kita namai KARAOKE dengan Koreaoke...hahaha.... KOREAOKE...!!!!

-Pril Huseno-

Wednesday, August 15, 2012

NASIB BURUH DAN LEBARAN SUCI

Musim lebaran ini, tentunya yang paling asem-asem pahit adalah nasib buruh. Apalagi yang THR nya belum dikeluarkan oleh perusahaan. Capek sudah bertanya ke Supervisor kapan kira-kira THR keluar, dijawab berdoa sajalah. Itu artinya harapan tipis. Setipis badan operator mesin genset yang kebanyakan merokok kala senggang, dan bergadang cari tambahan. 

Buruh dikala musim akhir puasa adalah spesies paling sengsara di-jagad Indonesia Raya, negeri kaya raya "gemah ripah loh jinawi". 

Dapat THR satu bulan gaji UMP saja bukan main senangnya plus sujud syukur. Terselamatkan sudah Hari Raya dengan baju baru anak dan istri disertai ketupat lebaran dan opor ayam satu  dua porsi. Jangan tanya dulu apakah itu sudah plus bonus atau belum. tidak ada kata bonus dalam kamus buruh rendahan. Itu hanya milik Supervisor dan Manager ke atas. Dapat THR adalah "Economic Miracle" dalam keseharian buruh, apalagi buruh harian dan buruh kontrak. 

Bagi mereka yang sampai hari ini belum juga dapat THR, itu artinya lebaran tahun ini sudah selesai. Sudah lewat sampai Tambun dan Karawang, tidak mampir itu Hari Raya di Jakarta atau Yogya dan Surabaya. Apalagi di rumah-rumah kost buruh. "Good Bye My Dream, you are not my Dream Team" kata mereka dalam hati dengan bahasa Inggris Toefl 1500. Segera saja ambil "continjensi plan" pinjam sana-sini demi menyelamatkan muka keluarga sak keturunan buat indahnya Hari Raya. Mau protes atau demonstrasi juga perut lapar karena puasa. Tapi kalau mau dipaksa, ya bisa saja, dengan resiko dapat teguran, SP I, SP II dan SP III karena dianggap melawan pimpinan perusahaan. Lewat pengaduan Depnaker ya sama saja. Pegawai negeri sudah pada sibuk berbelanja lebaran. 

Buruh di negeri maju tak gentar ini adalah lapisan masyarakat yang paling melongo melihat pameran kemewahan busana-busana lebaran, yang ditebar di jalan-jalan ketika Hari Raya. Kita patut menyatakan solider dengan buruh pada hari itu, dengan tidak bermewah-mewah atau berhura-hura ditengah tingginya harga-harga menjelang Hari Raya.

Lapisan terbesar masyarakat kita sesungguhnya amat terhimpit ketika hari kebesaran itu tiba. Kalau bisa sembunyi dulu dibawah bumi mereka akan sembunyi, karena ngeri dengan tingginya harga bahan pokok.  
Pedagang - pribumi dan non pri - seenaknya menaikkan harga demi laba sedahsyat-dahsatnya memanfaatkan momentum lebaran.  Pemerintahpun pura-pura tidak tahu dan berlagak pilon dengan katastropi itu, bahkan menyatakan kenaikan harga menjelang lebaran adalah hal yang wajar.  

Para rohaniwan, ulama dan pendeta, harus segera membuat "ideologi-ajaran langit" paling baru, untuk memberi pemahaman bahwa tiap hari raya bukan untuk jor-joran bermewah-mewah, karena yang merayakan dan berhura-hura itu adalah lapisan sosial paling pucuk dari stratifikasi sosial yang ada. lapisan besar menengah kebawah harus lintang pukang mencari biaya lebaran, demi menyenangkan anak istri dirumah. Alangkah sengsaranya para bapak yang bergaji UMP dan UMR itu. Itu yang jarang sekali dibicarakan dalam tiap kuah-kuah ceramah rohani para ustadz dan ustadzah di televisi. Seolah ummat dan jamaah mereka adalah yang datang di studio TV waktu siaran, diluar itu bukan jamaah tapi boneka pajangan yang tidak bisa pusing dan lapar. Nabi saja menyatakan bahwa pada hari raya cukup memakai pakaian yang terbaik, bukan yang paling baru. 

Buruh, yang menjadi komoditas utama awal orde baru oleh para pejabat sundal, telah dijual dengan harga murah kepada para investor asing, dengan mengatakan buruh kita adalah buruh paling rajin di dunia, dan dapat diberi upah dan makan dengan ubi jalar dan iwak peyek sekedarnya, lalu disuruh kerja lagi. Alias Politik Buruh Murah, demi menarik para investor. Dan sampai sekarang kebrengsekan itu masih terus terjadi.   

Suara-suara mengingatkan memang harus terus diudarakan. Agar katastropi tidak menjadi tsunami sosial yang dapat menjerumuskan apa saja. Kesucian hari raya harus terus dijaga dan dipagari, agar masyarakat kita tidak melulu terjerumus dalam euphoria hari raya yang tidak punya nurani. Lapisan besar masyarakat kita adalah petani dan buruh kontrak, yang perlu pemihakan dan pembelaan terus menerus. Selamat berhari raya dalam sikap mawas diri.  

-Pril Huseno-















Tuesday, August 14, 2012

Serial Aceh 3 : Kopi Aceh, Partai Aceh dan Sapi Aceh

Ada yang menarik pandangan mata ketika kulihat persis diseberang Polres sebuah kota di Aceh Barat, sebuah bangunan disamping deretan rumah dan toko yang seluruhnya dicat dengan warna merah darah yang miirip dengan bendera GAM saat konflik dulu. Kalau bendera GAM, ditengahnya ada gambar bulan sabit, tapi ini ada tulisan ACEH ditengahnya. lain itu,semuanya mirip bendera GAM.

Rupanya itu adalah kantor Wilayah Partai Aceh. Sebuah partai lokal di Aceh yang telah menjadi pemenang mutlak dari Pemilu legislatif lalu. di sebuah kota kabupaten saja, mereka menguasai 9 dari 14 kursi yang ada, belum lagi di semua kabupaten lain yang mayoritas kursi dimenangkan oleh Partai ini.


Partai ini memang unik. selain berani, lihat saja tampilan kantornya, jelas memenangkan positioning dan diferensiasi dari konsep pemasaran yang mereka lakukan. Itu sudah membuat orang Aceh menengok ke arah mereka, terlebih suasana pasca konflik yang lalu, yang merupakan "perang harga diri" buat orang Aceh kebanyakan, sudah membuat partai ini menyapu hampir semua kursi di legislatif daerah. 


Yang dijanjikan ketika kampanyepun, adalah nasib Aceh kemudian, berkaitan dengan kemandirian ekonomi, hak-hak kemanusiaan dan kebebasan menjalankan syariat Islam di tanah rencong. Tapi tidak ada unsur rasialis terhadap orang non Aceh, sehingga saat ini orang dari mana saja senang datang dan berniaga di Aceh.


Satu hal yang jadi catatan : disebuah kampung, ada tukang sate ayam (siang) dan kue putu (malam), 2 orang kakak beradik dari Brebes sudah bisa leluasa berjualan di satu kota kecamatan. Apakah mereka adalah intelijen ? awalnya rakyat curiga begitu, tapi lama-lama didiamkan, karena cukup bisa begaul dengan orang desa.


Kantor partai Aceh ini rupanya bertipe sama disemua daerah Aceh, dari selatan sampai utara, timur ke barat, semua mencat kantornya dengan bendera Partai Aceh. Merah darah Mentereng habis..! Itu saja sudah merupakan kefanatikan tersendiri, bagaimana tidak menang, apalagi di kawasan bekas pemberontakan. Dan hari ini sang Wali Nanggroe, Hasan Tiro yang berasal dari Pidie, datang kembali ke Aceh. Sebuah upaya penguatan terhadap peran wali naggroe antara Aceh dan Pemerintah pusat yang sedang dibangun.


Tahukah anda sumber kefanatikan itu lebih banyak bersumber dari mana? sejak dulu, dan ini yang sering diceritakan para tetua adat, kebanyakan terbentuk lewat obrolan2 lepas dan berjam-jam di warung-warung kopi yang bertebaran di seluruh Aceh.


Lewat obrolan itu, semangat perlawanan, perjuangan hak daerah dan diri orang Aceh, tuntutan keadilan, terbentuk dan membekas di meunasah-meuanasah (mushalla) dan ditiap rumah orang Aceh. sebagaimana pernah dijelaskan terbuka oleh panglima komando operasi keamanan Aceh, jenderal Zaki Anwar Makarim, bahwa menguasai Aceh harus memahami dulu ideologi perlawanan yang telah terbentuk di tiap meunasah dan rumah, yang merupakan dinding terluar dari gerakan perlawanan.


Jaman konflik tahun-tahun 1999 - 2000 dulu, warung2 kopi dipedalaman Aceh utara dan pidie, lalu timur, banyak orang ngobrol berjam-jam bicarakan politik sambil menaruh senjata AK 47/56 dibawah tempat duduknya. ya, itu gerilyawan Aceh, yang memang saat itu menguasai pedalaman,sebelum masa darurat militer dan sipil diterapkan. Acap kali senjata itu malah dipamerkan di atas meja, persis era koboi Texas dan Mexico.


Jaman Tsunami, kopi Aceh juga telah menjadikan relawan dari luar negeri menguasai semua warung kopi di daerah ULee Kareng Banda Aceh, setiap hari, Ulee Kareng seolah menjadi Kuta atau cafe di Bali. Semua sukwan-sukwati nongkrong sambil menikmati kopi Aceh disana. pagi siang dan malam.


Kopi Aceh telah menjadi alat perjuangan politik, pemersatu para relawan karena kangen rasa dan aromanya, serta telah menjadi trade mark Aceh.


Lalu kenapa pula tulisan ini berjudul Sapi Aceh ?


Karena saat perjalanan kami menuju Banda Aceh lewat pantai barat Aceh yang hancur lebur, banyak sekali dikejutkan oleh aksi para sapi Aceh, yang bergerombol di jalan raya seenaknya berjalan, membuat saya harus menginjak rem berkali-kali. Sungguh membuat surprise dan agak jengkel, karena rupanya ternak ini, bersama kerbau, dibiarkan berkeliaran dijalan-jalan karena mereka sudah tahu mana jalan pulang.


Sampai pada suatu daerah didekat Banda Aceh, rem harus saya injak kuat-kuat sampai mencicit, karena di tengah jalan raya yang mulus, ada 5 - 6 ekor sapi Aceh yang sedang duduk melingkar seperti orang sedang rapat, semuanya sapi dewasa, ditengah-tengah mereka ada 6 (enam) gelas kopi Aceh hitam pekat serta berasap ............!!!


-Pril Huseno-

Seria Aceh 2 : Berakit-rakit Ke Hulu, Jantungku Mau Copot...

Selepas off road di Teunom menjelang Lamno, kota musnah yang dulu banyak cewek bermata biru, rambut pirang dan tinggi putih, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa harus menyeberangi desa yang telah berubah menjadi muara, dan harus naik rakit untuk pergi ke seberang. ya, tsunami telah merubah wajah kemukiman ini menjadi 2 desa yang berseberangan, dipisahkan oleh muara laut.

Untuk menaikinya kami ditarik 20 ribu permobil, motor 3,000 dan orang 1,000 rupiah. Belum ada mata uang Aceh. Tidak jadi.


Yang kami khawatirkan hanya pada rakit berikutnya, rakit ke 2, kami salah jalan yang seharusnya rakit itu hanya untuk motor dan orang, tapi kami masuk ke daerah itu, dan terpaksalah, kami harus seberangkan juga kendaraan ini untuk sampai ke seberang.


Mata para penjaga rakit memang tajam melihat ke arah kami, apalagi plat B. Ini orang Jakarta, pikir mereka. Kupikir meraka pasti mantan kombatan GAM (gerilya), tegap dan tajam menatap. Tapi untungnya ramah saat berbicara.


Pada rakit pertama yang baru lewat, memang pas untuk penyeberangan mobil. tidak ada masalah apa-apa disitu. 


Tapi yang ini memang bermasalah. Muatan kami dibelakang cukup banyak, tas-tas dan barang-barang titipan orang kampung dalam kardus. belum lagi kami bertujuh, 4 anak perempuan kecil-kecil, satu istri orang, dan si fendi kepala keluarga itu.


Ketika mobil mulai dinaikkan oleh si fendi ke atas rakit, yang terdiri dari 2 buah perahu dijajarkan dan diatasnya diberi papan tebal sbg alas penumpang/kendaraan, mulai terjadi kengerian. Rakit langsung oleh ke kanan, mau tenggelam, tapi tak jadi. rupanya masih cukup kuat. Namun itu sdh cukup membuat 2 orang ibu yang mau menyeberang mengurungkan niatnya dan turun karena ngeri. 


Kuputuskan untuk menyuruh turun penumpang. supaya imbang, kuminta mereka untuk berdiri sebelah sebelah kiri rakit. akhirnya rakit jadi sedikit imbang. kecuali si fendi yang tetap dibelakang kemudi. takut sekali dia kehilangan mobil ini, pikirku. Mending ia membantu ku memegangi ke 4 anaknya agar jika terjadi apa-apa, lebih ada jaminan penyelamatan. Lagipula, apabila benar-benar rakit ini terbalik, apa ia masih bisa mengendarai mobilnya di dasar laut ? gerutuku dalam hati.


Aku memegang erat-erat anak perempuan si fendi. Hrs kuselamatkan 2 bocah ini apabila terjadi apa-apa, pikirku.


Ida, istri fendi ini, rupanya ketakutan dan bertanya polos pada anak muda disebelahnya,"bisa renang mas ya ? katanya. dan dijawab dengan nyengir oleh anak muda tadi :" anak perahu mana ada yang tidak bisa renang maknyak..!" sergahnya, dan diamini oleh sang pengemudi motor tempel perahu. 


Aih si Ida ini, pake memanggil "Mas.." pula dengan anak2 muda disini, Ini dulu daerah rawan. Mas-mas dari Jawa jadi sasaran regu-regu penembak tepat pemberontak Aceh ketika masa-masa konflik, mereka punya "daftar tembak" orangnya. Memanggil mas berarti kami dari Jawa. Untung sudah damai.


Ketika di Karawang 3 tahun lalu, mobilku juga naik rakit menyeberangi sungai Citarum ke desa sebelah, tapi menggunakan tali yang diikat ke seberang, dan ditarik oleh pengemudi utk sampai ke tujuan. Di Aceh sekarang rakit menggunakan motor tempel. Tidak seperti tahun2 70 dan 80 an yang juga menggunakan tali spt di Karawang. Ketika itu di Aceh lebih banyak sungai ketimbang jembatan.


Berangkat perahu tidak masalah, hatiku sudah mulai ketar ketir, takut tenggelam. berdoa dan ayat kursi kubacakan berkali-kali. minta perlindungan kepada Ilahi Rabbi. Rakit ini memang kecil dan nekat sekali kami harus naik ini rakit. terlalu beresiko.


Ketika sampai 3/4 jalan menuju seberang, mulailah gelombang muara dari laut menerpa rakit. anginpun kencang. wah, rakit beserta toge eh isinya... (jadi ingat tahu isi toge)...jadi berguncang-guncang ke kiri kekanan. Mengerikan. Persis seperti ayakan terigu jaman dulu yang digoyang-goyang emak2 ku dulu, kekiri dan kekanan. 

Anak dan istri teman terdiam, penumpang terdiam. apalagi si fendi didalam mobilnya. tanganku saja sampai mencengkeram kaca mobil yg terbuka separuh krn grogi luar biasa. sementara tangan yg lain memegang lengan dua anak kecil disamping. 


"Ayakan" laut muara itu memang luar biasa ngeri, sedikit saja grogi itu si pengemudi rakit, bisa dipastikan kami akan terbalik bersama-sama isi rakit + si fendi dan mobilnya. Aku pandai berenang, tapi kalau memegang 2 anak kecil dan ditengah gelombang muara ini apa bisa aku selamatkan 2 anak ini ? 


Doa terus menghambur dari bibir, lutut serasa lemas digoyang-goyang rakit ke kanan ke kiri. Ini baru rakit, pikirku, belum dihantam gelombang tsunami maut. "hutang-hutangku masih banyak yang belum lunas.." pikirku, harus selamat ini. Kucoba untuk tenang dan melihat wajah anak istri fendi. pucat pasi. Begitu pula wajah kelamku, kupikir. Jantung berdebar-debar keras.


Sang pengemudi rakit rupanya cukup tenang menghadapi gelombang muara dan rakit ini. terus dia berusaha sambil melihat dari bawah kolong mobil arah ke pinggir seberang. motor tempel terus ia arahkan melawan gelombang muara.


Akhirnya sampai juga perjuangan perahu tempel isi toge ini ke tepian desa seberang. Berakhir juga ketegangan itu yang amat mengerikan. hampir mati kami ditelan ombak muara teunom. Alhamdulillah. hari sudah mulai gelap karena masuk maghrib


Begitu rakit merapat segera kumeloncat lebih dulu dan menyuruh anak2 untuk segera turun menjauh dari air. Berbahaya daerah ini.


Rupanya begitu sampai Banda Aceh, diceritakan bahwa belum lama memang ada rakit yang terbalik dan ada mobil yang tenggelam ke dasar muara. Muara itu rupanya tidak dalam, hanya 5 - 7 meter katanya, dan mobil itu bisa dibawa kembali kedarat setelah ada penyelaman oleh anak2 muda dan mengikat dengan tali kemudian ditarik truk dari pinggir muara. 


Tidak dalam tapi kalau sudah 5 - 7 meter ya bisa bikin Duuut...juga mister, kataku. Ada-ada saja Aceh ini.


-Pril Huseno-


Serial Aceh 1 : Kehancuran Yang Merata di Pantai Barat Selatan

Berkesempatan berkelana sepanjang pantai barat Aceh via Melaboh pada Idul Fitri 2008, benar-benar pengalaman tak terlupakan. Menyaksikan sendiri sisa-sesa kehancuran akbiat Tsunami 2004 yang melanda kota-kota yang semula ramai di pantai barat menjadikan saya dan teman seperjalanan beserta keluarganya berkali-kali menggeleng-menggelengkan kepala karena ngeri.

Kota-kota seperti Meulaboh, Calang, Krueng Sabee, Teunom, Lamno dan Lhoknga sebelum Banda Aceh musnah, lenyap, luluh lantak, rusak binasa, adalah kata-kata yang pas untuk menggambarkan tingkat kerusakan yang diakibatkan gelombang raksasa, "seperti hambal yang ditarik ujungnya keatas kemudian ditimpakan ke kota2 sejarak Jakarta s/d Semarang...!" kata seorang famili di Banda Aceh.


Betapa tidak, gempa yang berkekuatan 9,3 skala richter pada 26 Desember 2004 menyebabkan gelombang setinggi lk. 30 meter disepanjang pantai barat dan masuk menerjang sejauh 5 kilomter kedaratan. "kalau abang sempat lihat bukit-bukit yang ada diLhoknga, disana ada tanda dari ketinggian air laut yang menerjang bukit, seperti dipapak dgn kapak raksasa, batas kebawah coklat, sedang 30 meter keatas masih hijau" tambah si Iten, di Banda Aceh.


300 ribu orang tewas dalam bencana maha dahsyat itu, di Banda Aceh sendiri tidak kurang dari 50 ribu orang meninggal. 


Itu sebabnya yang kami saksikan di sepanjang jalan, kecuali Meubalboh, yang kota besar, kota-kota lainnya seperti diatas, telah muncul rumah-rumah baru bantuan BRR, itupun jumlahnya tidak seperti sebanyak sebelumnya.


Rumah diKota-kota baru itu hanya tebilang puluhan, sepanjang yang kami lihat, hanya rumah-rumah "berseri" warna, seragam. rumah biru, rumah kuning, semuanya dilengkapi dgn tangga dan bermodel rumah panggung. kalau ada tsunami lagi, maka rumah2 itu pasti kembali binasa. 


Lalu kemana penduduk kota-kota itu yang dulu ramai ? semuanya musnah, seperti menyaksikan padang mahsyar pasca kiamat sughro, lalu Allah swt membentuk lagi bumi dengan bumi yang baru. begitulah kira-kira. 


Didaerah sebelum teunom di lepas pantai sekita 500 meter, terlihat bekas jalan layang yang dulu tinggi menjulang melewati pantai teunom, kini hanya tersisa pangkal jembatan di masing-masing sisi pantai seberang. jembatannya sendiri hancur lembur diterjang gelombang. 


Daratan yang dulu adalah rumah-rumah dan pepohonan, kini berganti menjadi laut yang bergelombang besar. mengerikan. Kota jadi laut, daratan sekita 1 kilometer berubah menjadi danau. Dan ditengah-tengah danau itulah kini sedang dibangun jalan poros Meulaboh - Banda Aceh dgn biaya dari USAID. 


Sudah 3 tahun jalan poros situ tak jadi-jadi. Mungkin karena medannya yang berat, karena harus menimbun bagian tengah danau menjadi jalan raya selebar 30 meter, lalu kembali amblas, atau karena masalah pembebasan tanah yang sempat kami dengar.


Tapi jalan yang tidak jadi-jadi itulah yang membuat kondisi jalan amburadul dan acak adut, terlebih apabila habis hujan, becek sebecek-beceknya. Lumpur tebal menjadi tantangan tersendiri bagi Off Roader macam saya, yang belum pernah sama sekali mengendarai mobil sejauh ini, dgn kondisi yang luar biasa "Off Road" ini. dalam artian jalannya : Off - tak bisa dilewati. tapi harus ditembus kalau mau ke banda aceh.


Begitulah, dgn bekal keahlian mengendarai jalan off road dari Aziz Schumacher dan Muluk Rossi, kami tembus juga jalan sejauh lk. 500 KM itu. Luar biasa capek. 


Geleng-geleng kepala kami tidak asal geleng kepala, tapi sembari menyebut asma Allah dan meminta ampun atas dosa-dosa ummat sekalian, ketika menyaksikan sisa becana ini. Sama spt ketika hari ini kita menyaksikan akibat dari bencana gempa di Padang Sumbar selasa lalu. Sungguh Allah maha pemberi maaf, apabila kita terlanjur lalai. 


IKUT LOMBA PUKUL KENDI


Kemarin ramai sangat perayaan 17 an di distrik Pulo, Jatinegara Barat, Jakarta, tempat aku pulang ke rumah asal dan nongkrong bersama komunitas pinggiran jalan, nama ini berarti gaul dengan tukang parkir, kuli angkut barang, copet yg lg ngaso, preman tunggu mangsa, sopir angkot, pe'cun atau perek tanggung, dan tukang2 jajanan yg hilir mudik setiap saat.
Tapi kemarin benar-benar hari ceria buat semua angkatan, maksudnya "kelas" dalam terminologi marxis. Peringatan 17 an di Kp Pulo diwarnai aneka macam permainan yg dipanitiai oleh ibu-ibu gang 1 dekat rumah, yg rela berkeringat untuk mensukseskan acara. Kebanyakan mereka adalah istri dari pejuang2 sektor informal kota, (atau bahasa kaum pergerakannya kaum marjinal), atau kaum miskin kota menurut term-nya neng wardah hafidz boss Urban Poor Concorcium/UPC (?).
Diadakanlah aneka lomba untuk semua angkatan yang mau partisipasi, setelah dimintai sumbangan Rp. 10,000,- bagi kelas borjuasi perkotaan (ciee..), dan gratis bagi kaum terpinggirkan (xi xi..). Ada lomba joget sambil bikin ketupat diiringi musik dangdut (gila betul), lomba makan kerupuk, lomba ambil duit di manggis tp manggisnya dilumuri oli, lomba pukul kendi isi Rp. 15,000 dan rokok Djarum sebungkus, lomba masukkan pinsil ke botol, dll.
Terpingkal aku ketika ibu-ibu yg sehari2nya sedih sambil dengar lagu Mansyur S "Penantian" ini ikut lomba joged dangdut sembari membuat anyaman ketupat; ya jelas gak fokus. goyangan mereka sungguh a'udzubillah, jauh dari goyang sexynya Mulan Jameela ataupun Syahrini ataupun gemulai tarian si Mpok Siti Maryam, "mbok jgn dibandingkan" pikirku. Belum lagi riuh rendah sorak sorai hadirin wal hadirot, anak-anak dan orang tua, sungguh riuh.
Tepat bila dikatakan keriaan diperayaan agustusan ini sebagai metode "pembuka tutup botol" dari ketegangan dan kesumpekan sosial yang ampuh. Semua uneg2 dilepaskan lewat teriakan dan tawa berderai-derai.

Tetapi nilai dari pesta rakyat yang satu ini amat beda dgn pesta rakyat spt pemilu kemarin. kalau pemilu, rakyat hanya disuruh nyontreng, kemudian melongo melihat perebutan "kue" kekuasaan dan pesta pora para elit serta bingung melihat pengadilan para koruptor, yg ini mereka betul-betul tulus merayakannya, semua tumpah jadi satu.
Tiba giliran memukul kendi dengan mata tertutup, aku putuskan utk terjun serta. "ayo Om, ayo Oom.." seru anak-anak. "gampang.." kataku dalam hati, gitu aja pada gak bisa. memang kulihat tadi para peserta semua meleset memukul kendi yang digantung dgn bambu lk. 1/2 meter diatas kepala, kebanyakan peserta kesulitan menata akurasi pukulan, agar pas ke arah kendi.
Segera aku maju ke arena, dgn diam-diam kuhitung langkah kaki dr posisi bawah kendi sampai ketempat panitia, lurus 15 langkah..pasti pas..!!. Panitia segera menutup mataku dgn kain, dan kupegang pemukul kasti yg diberi. Tapi setelah mataku ditutup, tiba-tiba panitia berseru:" putar...!!" Wah, tubuhku diputar panitia kearah kiri sebanyak 5 kali. Ampun, pusing bukan kepalang. Kepala berat dan gelap tambah gelap. Sesaat aku rasanya mau jatuh krn pusing. :Ini pasti gejala strooke.." ujarku dlm hati sambil mengumpat. Usia sudah 45 lewat.
Sejak diputar itulah, serasa terbang semangat pejuang. Rasa PD ku bubar bar bar.. ., ah, klau begini pasti gagal. kembali aku mengumpat dalam hati kepanitia.
Ketika panitia dan hadirin berteriak " ayo jalan Oom.." aku mau tak mau dan terpaksa melangkah juga. Aih, mak.. berat nian.., hoyong kaki ke arah kanan,. rupanya ada panitia yg mengawalku disisi kanan agar tak jatuh ke got. rupanya mereka sdh siap, setelah diputar pasti peserta kontan seperti pemabuk berat 7 botol bir. jalan saja sdh tidak oriented.
Benar, orientasi arahku kacau tak keruan. menyesal aku meremehkan peserta dan permainan ini." Makanya jangan blagu dan sombong..".sesalku. Kupaksa terus melangkah, tapi langkah kaki kok seperti berat. hitungan 15 langkah tadi bubar sudah. tidak kepake..!!. hehe..
Sebentar-sebentar panitia meluruskan arah langkahku- makhluk Tuhan paling tak berdaya ini- agar tak terperosok ke got. Ooooh ..pantita, tega nian dikau..rupanya begini rasanya habis diputar 5 kali tadi, pantas peserta pada mabok, pikirku. Semua analisa arah, kompas dan akurasiku hancur total bagai kena rudal saddam. hah..!!
Pengunjung bersorak sorai, "ayo...ayo...terus...teruuss oom..."kata mereka. Aku susah payah melangkah, bagai pemabuk berat yg kehabisan uang, lutut serasa bergetar, tak tentu arah. Pemukul baseball kupegang dengan kedua tangan. Mengusahakan agar terus maju walau seperti bayi belajar melangkah.
Akhirnya sampai juga ke bawah kendi yg digantung tadi. " kurang dua langkah oom.." teriak anak-anak, riuh sekali. yah, aku maju lagi 2 langkah, dengan menyeret kaki pelan2. Aduh mak. berat nian perjuangan ini. mending disuruh demo atau bikin kerusuhan saja pikirku. malu campur grogi teraduk jadi satu. Tadi gagah perkasa dipanggil Om-om, sekarang seperti orang kena penyakit sawan. limbung.
Sampailah hamba sahaya dari pengunjung ini ke bawah kendi, ah..ini pasti kena, pikirku. Orang ramai berteriak-teriak:"pukul-pukul...!!" seru mereka. Wah ini pasti aku punya point kalau kena, minimal perbaiki gengsiku. masak gak kena. orang sudah pas dibawahnya. Om-om keren lagi. Lagipula mereka sudah teriak-teriak, anak dan ibu-ibu, serta para remaja. Ini harus sukses. yakin aku.
Kuangkat pelan-pelan itu pukul baseball, aih bergaya aku bagai Musashi dalam novel jepang yg membawa samurai, siap-siap membabat lawan. Disitulah aku bergaya bagai film-film ninja. Keren memang. Kedua tangan diatas kepala sambil memegang pukulan, amboi,,,persis seperti Musashi pikirku. Pengunjung sudah riuh rendah tak karuan, tak jelas lagi apa yg mereka teriakkan. mungkin krn yg berlaga ini Om Prill yang mereka lihat sehari-hari keren dgn gaya modisnya. sambil lewat utk sholat menuju mushalla di bawah. Itu klau aku sdg berkunjung ke distrik itu.
Kutahan sebentar pukulanku, "biar mantap pecahnya.." sombongku dlm hati. Kalau pecahnya mantap kan spt film laga beneran. "Pyaaaa...rrr' khayalku. pasti pengunjung bersorak.
Agak 15 detik kemudian, dgn sekuat tenaga kuayunkan pukulan baseball ke arah kendi diatas kepalaku.."hup..hyaaaaatt....!!!" teriakku sekuat tenaga bagai membabat musuh dgn samurai tajam terhunus.
"Wuuuuuuuu.............ttttt..!!!" ah..,, tanganku terayun kedepan atas kepalaku, tapi kok...? KOSONG...!! hah...!! kok enteng sekali..? kok tak ada bunyi barang pecah...? kok tanganku kosong tidak kena apa-apa? waah..
"HIYYAAAAAAAAAAAAAAA......!!! teriak penonton beramai-ramai dan serentak. Rupanya aku memukul tempat kosong. TIDAK KENAAAA...!!!" teriak penonton lagi..Horeeeee......
Hah..malu benar aku, rupanya aku gagal. judulnya : " G A G A L ..!!"
Malu benar aku...terbang lagi semangatku, bayangan gaya film laga musnah sudah. Makanya jangan sombong Priiiillll...sergahku dalam hati. jangan remehkan orang kecil...!!"pikirku. mereka itu jago-jago dan terlatih dikehidupan pahit tiap hari. Itu tadi aku memang sengaja dikompori agar memukul dan merasakan kecewa dan malu krn tidak kena. mereka sudah tahu. sialan..!!! dikerjai aku..!! Selamat tinggal film laga..!!!

Kampung Pulo, 17 Agustus 2009.
-Pril Huseno-

BUALAN SEORANG AYAH KEPADA ANAK-ANAKNYA

Malam belum begitu larut, baru pukul 10.00 wib. Seorang Ayah bersama kedua putranya sedang mengobrol ditempat tidur sambil menatap langit2 kamar. Ayahnya ditepi ranjang, sementar putranya yang berumur 3,10 tahun ditengah dan si sulung dikepala ranjang. 
"Memangnya Ayah dulu pejuang..?" tanya si sulung sambil memainkan kaki.
"iya, dulu Ayah komandan di kawasan Bekasi - Cikarang" jawab sang Ayah
"berarti Ayah punya senjata ? anak buah ada berapa yah..? tanya si sulung lagi.
"ya, Ayah dulu megang M-16, jaman tahun 47 udah ada M-16, anak buah Ayah sekitar 200 orang, semuanya jagoan" jawab sang Ayah lagi.
"M-16 kan punya Amerika yah, memang Ayah dulu dibantu Amerika ? lawannya siapa yah? 
"Amerika itu dulu memang membantu kita, lawan Belanda"
"Wah, tapi Ayah sering sebel sama Amerika..? si sulung protes, sementara sikecil bolak balik menoleh ke arah Ayah dan sisulung, karena ia ada ditengah2 mendengarkan percakapan, tentunya sambil ngemut botol susu kesayangannya.
" Ya Amerika itu memang kadang2 nyebelin, tapi kadang2 bikin kangen." kata sang Ayah 
"Ah, Ayah gimana sih, ke kanan ke kiri.." protes si Sulung
"bener, Amerika memang kadang ke kanan, kadang ke kiri.." bela sang Ayah sebisanya
Kemudian hening sebentar, si sulung berbalik memeluk guling disebelahnya, sementara sang Adik menatap mata ayahnya, tetap sambil ngemut botol susu.
"Dulu temen Ayah pejuang yang paling terkenal siapa ? " tanya si sulung lagi
"Slamet Saroyo...!" jawab sang Ayah
"Siapa tu Yah? daerah mana dia berjuang ?"
"Dia didaerah jawa tengah, Yogya. Belanda banyak yang mati kena pelurunya." lanjut Si Ayah
" dia punya anak buah? " 
"punya, 200 orang juga"
"kok sama?"
Ya sama, orang satu divisi..!"
"Divisi itu apa Yah"
"Satu kesatuan pejuang daerah" si Ayah mulai gelagepan.
" Sekarang masih hidup teman Ayah itu ?" si sulung melanjutkan lagi.
"udah gugur, kena khianat orang kita juta, akhirnya dia gugur .." 
"khianat gimana Yah? " 
" ya dia gugur karena pengkhianatan bangsa sendiri, yang rakus sama duit" jelas sang Ayah
"kasian ya Yah" tutur si sulung
"Sudah nasib..!" kata si Ayah
Tiba-tiba si kecil mendadak melepas botol susu dari mulutnya dan bertanya: " gigi sebelah kiri Ayah kok boyong..?" tanya sikecil dengan logat cadelnya
"Wah kalo ini dulu ketembak belanda pas di mulut, kena gigi, ya bolong, "
"Terus pelurunya kemana Yah?" si sulung menimpali
"Ayah telan...!" sembarangan si Ayah menjawab
"hah..? Ayah sakti dong..." seru si sulung dengan kaget.
"ya Ayah sakti tapi masih kalah sakti dengan monyet sipit" jawab si Ayah
"Monyet sipit siapa tu Yah "
"Namanya Anggodo, saktinya luar biasa, bisa terbang ke langit, bisa ngilang, bisa berubah ujud jadi jendral, bisa nakut-nakuti presiden dan bisa gak ditangkep-tangkep sama penegak hukum.." sang Ayah menjelaskan dengan perasaan jengkel
" ilmu apa tu Yah..?" si sulung penasaran
"Ilmu Kudu..!"
"Kudu apa ?"
"KUDU BANYAK DUIT..!!!"putus si Ayah
Malam semakin larut. Si sulung dan si kecil terdiam sambil menatap langit-langit. Sang Ayahpun terdiam, juga menatap langit-langit kamar. Diluar, suara jangkrik berderik-derik. Sayup-sayup deru motor lewat masih terdengar. 
"Kudu Banyak Duit...!" si sulung berkomentar pelan sambil membalikkan badan, memeluk guling kesayangan. 


-Pril Huseno-

HIKAYAT NEGERI BERTUAH


Jangan biarkan negeri ini  hancur lebur punah jadi abu, dengar alunan doa keramat orang-orang papa. Meriuh dalam tangis dikangkangi kesombongan pembesar-pembesar keturunan dajjal.  Tanah, air, laut dan udara yang dikapling oleh kerakusan purba telah mengubah wajah negeri menjadi negeri  kera, yang bergelantungan kesana kemari mencari mangsa dengan cara-cara curang dan licik.

Ingatlah ketika jaman merkantilis, petualang-petualang putih bagai sebarisan iblis pembunuh yang merasuk merusak kemana-mana keseluruh pelosok negeri. Menancapkan bendera kekuasaan dan kepongahan ditanah pusaka, tanah keramat yang direstui Tuhan, sambil berkata bahwa mereka membawa missi dari Tuhan pula, untuk menjajah negeri  bangsa lain. Bagai kera yang berlaku curang dan licik menguasai hajat hidup tanah jajahan.
Mencengkeram daya hidup dan adab jiwa tanah adat. Memaksakan hukum-hukum ciptaan kepala nenek moyang mereka, untuk dipakai dalam keseharian rakyat bengek, yang hidup kembang kempis hari demi hari.  

Lalu tibalah hari amarah-angkara. Pemberontakan terhadap para kera licik yang keterlaluan. Para Teungku, Teuku, Panglima, Pangeran, Raja, silih berganti melawan kekuasaan para kera yang menang secara teknologi persenjataan. Darah mengalir bagai air sungai surga, mengharum semerbak aura syahid dan syahidah.  Kematian demi kematian tiadalah seberapa, dibanding kegarangan pesan mendidih kepada para kera bahwa tidaklah boleh, dan haram menghina dan menginjak-injak martabat tanah indatu, yang dihormati berabad-abad.
Sampai akhirnya hari kemenangan tiba. Bak kemenangan hari raya yang disambut gegap gempita oleh segenap rakyat di seantero negeri. Kebebasan dari kaum kera kulit putih selama beberapa abad. Seluruh kaum, rakyat adat, lapisan-lapisan rakyat akar rumput turun tumpah ruah dalam pawai-pawai gempita kemenangan. Tekad dan sumpah mempertahankan kebebasan bergema dimana-mana, walau setelah itu harus kembali bertarung dalam Padang Kurusetra perang ganas melawan punggawa-punggawa kera kulit putih yang mencoba balik menguasai tanah keramat.


Tak bisa, tiadalah bisa engkau kaum jahat hati berperangai kera kembali menginjak-injak tanah leluhur  warisan para indatu. Kalimat-kalimat suci dari langit dan kalimat-kalimat luhur para tetua yang terwarisi dalam semangat perlawanan terbukti tiadalah bisa engkau lawan.  
Namun kini, ya Tuhanku, negeri keramat ini kembali dilanda bencana demi bencana dari murka alam, kemarahan demi kemarahan dan caci maki syak wasangka. Tidak lain tidak bukan karena sekumpulan kera dusun kecil yang termakan sifat serakah dan budaya primitif yang dibawa para turunan laknat kera kulit putih. Mencoba kembali menguasai hajat hidup akar rumput, kebun hijau dan lembah menyejukkan dari negeri para indatu. 
Hanya kalimat-kalimat bijak dan peringatan yang dapat disampaikan oleh para tetua negeri agar amarah-angkara tidak lagi menguasai negeri, menumpahkan darah suci para syahid syahidah.

Mari, hentikanlah mewarisi sifat-sifat kera penguasa-penguasa lalim jaman merkantilis, jika engkau telah jadi budak belian petualang-petualang kulit putih jaman Neolib. Menghisap lalu meninggalkannya dalam ketiadaan aliran darah ditubuh, persis seperti drakula pembunuh. Meninggalkan lubang-lubang raksasa bekas galian tambang, meninggalkan hamparan hutan gundul yang engkau bilang itu kesalahan  peladang. Engkau ciptakan iklim ketergantungan kepada modal asing dari bank-bank raksasa milik Negara-negara dunia pertama, yang mereka sendiri sekarang tengah sekarat mengatasi kerumitan dampak sistem kapitalisme yang mereka bangun.

Sekarang para kera kulit putih memang tidak lagi membawa pasukan pembunuh seperti jaman para indatu, tapi  mereka membawa sederet peraturan, konsep, gagasan dan budaya yang dipaksakan ditelan mentah-mentah oleh punggawa-punggawa kerajaan gagap, dan para penikmat hedonisme mabuk obat bius.


Tetapi walau tidak membawa barisan pembunuh, segala aturan dan regulasi, sistem dan konsep yang ditelan mentah-mentah itu telah berdampak sama, bahkan lebih, dibandingkan korban-korban era merkantilis dulu, membawa kesengsaraan, penjarahan lahan adat dimana-mana, busung lapar dan gizi buruk, serta pembodohan massal. Ditingkahi adat budaya para kera pencoleng uang negeri.

Persis seperti ungkapan sang Subcomandante Marcos, pemimpin gerakan perlawanan “Zapatista” di Meksiko : “Kesalahan utama Neolib adalah berpikir bahwa orang bisa maju melawan sejarah. Campur tangan yang terjadi dalam kasus tanah, berlagak membangun kepercayaan bahwa disini tidak pernah ada sejarah, kebudayaan, atau apapun lainnya” (“Bayang Tak Berwajah”, Ronny Agustinus, 2005).


Era petualangan kulit putih Neolib ini harus disudahi. Sebagaimana dahulu nenek moyang mereka para petualang merkantilis menghadapi doa dan perlawanan para indatu. Sebab jika tidak dihentikan dengan segera, amarah-angkara akan semakin menjalar dengan berita dari kaum ke kaum, yang diberitakan lewat mangkuk berisi darah, sebagaimana adat budaya Dayak di pedalaman Borneo, adat yang menandakan bahwa perlawanan semesta akan segera dimulai terhadap kelaliman. Cegah jangan sampai darah di dalam mangkuk itu bergerak mendidih.

Lihatlah tanah Mesuji dan Bima yang membara, Bekasi pun kembali meneriakkan sajak-sajak menggetarkan dari pujangga Chairil Anwar : “kami yang terbaring antara Karawang – Bekasi..”, lalu bara perlawanan yang mulai merebak dimana-mana. Sementara sang penguasa gagap terus tenggelam dalam kebodohan kolektif mempertahankan ego primitif para pemodal, persis tingkah para kera jaman merkantilis. Dipojok sana, ulah kebanyakan para begawan bijak pengemban amanah rakyat di gedung mewah semakin memalukan dan menjijikkan.

Ingatlah, amanah rakyat adalah kredo suci yang akan membawa mudharat turun temurun ke anak cucumu, bila engkau gagal mengembannya atau bahkan mengkhianatinya. Karena doa dan rintihan itu akan terus mengembara memenuhi ruang dan waktu, mengabarkan ke segenap dimensi kehidupan alam raya, bahkan ke keheningan langit ke tujuh, dimana doa-doa orang lemah dan alim yang teraniaya akan di ijabah.

Kembali ke kearifan anak negeri tiadalah salah dan tiadalah memalukan. Karena kearifan itulah yang telah memelihara tanah tempat berdiri dan beranak pinak dari kehancuran bersebab murka alam. Tiadalah pula salah dan keliru menempatkan harga diri anak negeri dihadapan keturunan para kera kulit putih jaman merkantilis, yang selalu mewarisi semangat primitif nenek moyangnya. Karena dengan harga diri anak negeri itulah selamat anak cucu sekalian.

Dunia, hidup dan kehidupan ini akanlah aman dan sejuk jika selalu menempatkan kearifan kaum adat, harga diri anak negeri dan keteguhan memegang prinsip-prinsip luhur warisan para tetua.

-Pril Huseno-