SAJAK-SAJAK KEMARAHAN

Hey para laknat yang duduk disinggasana emas..
Kemarilah menepi barang sejenak
Tuk mengamini doa rohaniwan bungkuk
Bagi jenazah kaku kerontang ini…
Buah obrolan dan bualanmu digedung perwakilan sana..

Seribu juta teriakan
Tak kan mampu membuka mata hati dan pikiranmu
Apalagi akal sehatmu
Bagi kebenaran yang engkau benamkan
disedalam-dalamnya tanah yang kau pijak..

Hey para laknat,
Yang tidur berbantal perut lapar orang miskin..
Turunlah sejenak,
ikutlah menghitung butir nasi aking dikampung-kampung
Yang telah menjadi menu sehat lima celaka bagi orang-orang papa..
Kaum yang turut menyumbang tenaga dan hak suara
Bagi kenyamanan duduk pinggul berbelatungmu…

Wahai para pendurhaka anak negeri,
Teruskanlah, teruskanlah membutakan
indra penglihatan dan nuranimu
sesungguhnya istana megah para durjana
memang hanya diperuntukkan bagi orang-orang buta
yang merayap mencari tiang penyelamat
dari para setan penghisap darah rakyat..

Mata yang tiada mampu lagi melihat
Penat yang mendera punggung-punggung kecil
Ketika harus menulis tanpa beralaskan meja
Dan ketiadaan atap tempat belajar

Sementara kalian sibuk menghitung
Perolehan angka-angka statistik
Penurunan jumlah orang miskin,
Kemudian naskah itu ditertawakan oleh para kuli angkut pasar-pasar becek
Dan menjadi pembungkus cabe merah dan bawang
Dari tangan penjual rempah berbalut kebaya lusuh

Kemarilah kalian sejenak
Duduk bersama kami diatas debu
Agar kalian dapat mendengar bisikan seorang guru,
Cepat-cepatlah beringsut
Sebelum api kemarahan melumat semua kemegahan
Yang kalian bangun
Diatas kubur rumah-rumah kami,
Kenangan-kenangan kami,
Dan orang-orang tua kami..

Sikap  pongah dan jumawamu
Tak akan banyak membantu
Karena jelas kita bukan lagi sekutu
Dan setiap kebanggaan yang engkau taburkan lewat letusan peluru
Akan kami lawan dengan batu…!!


Pril Huseno
Bekasi, 08 April 2011

Comments

Popular posts from this blog

TANAH HITAM KERAMAT ACEH, BUMI SINGKIL

PUSAT PELATIHAN KERAMIK P4TK SENI DAN BUDAYA DI YOGYAKARTA