Tuesday, August 14, 2012

Serial Aceh 3 : Kopi Aceh, Partai Aceh dan Sapi Aceh

Ada yang menarik pandangan mata ketika kulihat persis diseberang Polres sebuah kota di Aceh Barat, sebuah bangunan disamping deretan rumah dan toko yang seluruhnya dicat dengan warna merah darah yang miirip dengan bendera GAM saat konflik dulu. Kalau bendera GAM, ditengahnya ada gambar bulan sabit, tapi ini ada tulisan ACEH ditengahnya. lain itu,semuanya mirip bendera GAM.

Rupanya itu adalah kantor Wilayah Partai Aceh. Sebuah partai lokal di Aceh yang telah menjadi pemenang mutlak dari Pemilu legislatif lalu. di sebuah kota kabupaten saja, mereka menguasai 9 dari 14 kursi yang ada, belum lagi di semua kabupaten lain yang mayoritas kursi dimenangkan oleh Partai ini.


Partai ini memang unik. selain berani, lihat saja tampilan kantornya, jelas memenangkan positioning dan diferensiasi dari konsep pemasaran yang mereka lakukan. Itu sudah membuat orang Aceh menengok ke arah mereka, terlebih suasana pasca konflik yang lalu, yang merupakan "perang harga diri" buat orang Aceh kebanyakan, sudah membuat partai ini menyapu hampir semua kursi di legislatif daerah. 


Yang dijanjikan ketika kampanyepun, adalah nasib Aceh kemudian, berkaitan dengan kemandirian ekonomi, hak-hak kemanusiaan dan kebebasan menjalankan syariat Islam di tanah rencong. Tapi tidak ada unsur rasialis terhadap orang non Aceh, sehingga saat ini orang dari mana saja senang datang dan berniaga di Aceh.


Satu hal yang jadi catatan : disebuah kampung, ada tukang sate ayam (siang) dan kue putu (malam), 2 orang kakak beradik dari Brebes sudah bisa leluasa berjualan di satu kota kecamatan. Apakah mereka adalah intelijen ? awalnya rakyat curiga begitu, tapi lama-lama didiamkan, karena cukup bisa begaul dengan orang desa.


Kantor partai Aceh ini rupanya bertipe sama disemua daerah Aceh, dari selatan sampai utara, timur ke barat, semua mencat kantornya dengan bendera Partai Aceh. Merah darah Mentereng habis..! Itu saja sudah merupakan kefanatikan tersendiri, bagaimana tidak menang, apalagi di kawasan bekas pemberontakan. Dan hari ini sang Wali Nanggroe, Hasan Tiro yang berasal dari Pidie, datang kembali ke Aceh. Sebuah upaya penguatan terhadap peran wali naggroe antara Aceh dan Pemerintah pusat yang sedang dibangun.


Tahukah anda sumber kefanatikan itu lebih banyak bersumber dari mana? sejak dulu, dan ini yang sering diceritakan para tetua adat, kebanyakan terbentuk lewat obrolan2 lepas dan berjam-jam di warung-warung kopi yang bertebaran di seluruh Aceh.


Lewat obrolan itu, semangat perlawanan, perjuangan hak daerah dan diri orang Aceh, tuntutan keadilan, terbentuk dan membekas di meunasah-meuanasah (mushalla) dan ditiap rumah orang Aceh. sebagaimana pernah dijelaskan terbuka oleh panglima komando operasi keamanan Aceh, jenderal Zaki Anwar Makarim, bahwa menguasai Aceh harus memahami dulu ideologi perlawanan yang telah terbentuk di tiap meunasah dan rumah, yang merupakan dinding terluar dari gerakan perlawanan.


Jaman konflik tahun-tahun 1999 - 2000 dulu, warung2 kopi dipedalaman Aceh utara dan pidie, lalu timur, banyak orang ngobrol berjam-jam bicarakan politik sambil menaruh senjata AK 47/56 dibawah tempat duduknya. ya, itu gerilyawan Aceh, yang memang saat itu menguasai pedalaman,sebelum masa darurat militer dan sipil diterapkan. Acap kali senjata itu malah dipamerkan di atas meja, persis era koboi Texas dan Mexico.


Jaman Tsunami, kopi Aceh juga telah menjadikan relawan dari luar negeri menguasai semua warung kopi di daerah ULee Kareng Banda Aceh, setiap hari, Ulee Kareng seolah menjadi Kuta atau cafe di Bali. Semua sukwan-sukwati nongkrong sambil menikmati kopi Aceh disana. pagi siang dan malam.


Kopi Aceh telah menjadi alat perjuangan politik, pemersatu para relawan karena kangen rasa dan aromanya, serta telah menjadi trade mark Aceh.


Lalu kenapa pula tulisan ini berjudul Sapi Aceh ?


Karena saat perjalanan kami menuju Banda Aceh lewat pantai barat Aceh yang hancur lebur, banyak sekali dikejutkan oleh aksi para sapi Aceh, yang bergerombol di jalan raya seenaknya berjalan, membuat saya harus menginjak rem berkali-kali. Sungguh membuat surprise dan agak jengkel, karena rupanya ternak ini, bersama kerbau, dibiarkan berkeliaran dijalan-jalan karena mereka sudah tahu mana jalan pulang.


Sampai pada suatu daerah didekat Banda Aceh, rem harus saya injak kuat-kuat sampai mencicit, karena di tengah jalan raya yang mulus, ada 5 - 6 ekor sapi Aceh yang sedang duduk melingkar seperti orang sedang rapat, semuanya sapi dewasa, ditengah-tengah mereka ada 6 (enam) gelas kopi Aceh hitam pekat serta berasap ............!!!


-Pril Huseno-

No comments:

Post a Comment