Monday, February 24, 2014

LOMBANG

Apakah ada yang lebih mengharukan
Selain sapaan lembut sepoi angin 
Pantai Lombang

Ooh.. Maduraku yang jauh

Sejauh tujuan angin berembus,
Kencang membawa seribu angan
lepas jatuh ke ujung harapan

Cemaramu menabur harum 

Kisah romansa 
Sepasang anak muda 
yang memadu kasih
                                   mengikat janji

Perubahan hanya akan terjadi

Jika paduan angin,
Mata hati
Dan nasib baik
berpihak pada kebenaran 

Karena jiwa -jiwa manusia

Terpaut pada janji 
Sang Semesta Alam

Karena kefanaan 

Hanya sebuah persinggahan
Menuju keabadian agung

Untuk itulah sifat baik

Berpadu dengan restu 
Kekasih alam
Membawa pada sejuta penantian
Di ujung mesra pantai lombang..

Sumenep, Madura

24 Februari 2014
Pril Huseno



Monday, February 17, 2014

LIANGKALA SANGKA KALA

Jagad bumi utara, jagad bumi selatan
Demi Rahman Katibin yang melindungiku
Depan belakang kiri kananku
Ilmu besi disekelilingku
Bisa tangan diseluruh jemari tanganku
Tegak tulang menjulang menggapai langitku
Tapak Kakiku yang tak terlacak,
Diamlah sekalian kaum yang membenciku
Sampai lewat angin malaikat gaibku, 
Tersadar sekalian ummat yang kehilangan tujuanku

Tanah menggunung laut menyamudera 
Mengacung acung sumpah serikat rakyat
rakyat kecil rakyat besar rakyat pasar pasar rakyat
Menggeram-geram dalam kelam
Kelamnya kelam, pekat-pekat
Menabur kesumat sepakat rakyat
Kesumat kesumat Kesumat

Kutandai engkau dengan bunga makam
Kuambil engkau dengan kukumu, dengan rambutmu
Dengan air minumku, dengan makanmu
Udara mencari-cari angin menandaimu
Menyerap dalam racun aliran darahmu
Dalam kelam malam tidurmu
Tidurmu aku masuk dalam tidurmu

Kuat kami kuatku membaca baja-baja
Jangan diuji kuat kami
Tidak seujung kuku bisa menembus kuat kami
Kuat kami kuat rakyat, rakyat yang kuat kuat
Jangan yakin dapat mengubur keyakinan dan impian
Selagi kuat kami mengikat bulat dalam kesumat- kesumat

Selagi tegak tegar berdiri tangan mamancang langit
Tipu tipumu cuma mainan tidur dalam kelam yang terang
Baca pesan, ukur, buka, baca
Pakai ilmu ukur bumi, ruang, jarak, waktu, hampa
Baca lafal-lafal azimat revolusi 
Hitungan waktu menyudahi angkuhmu
Angkuhmu ditelan bulat bulat semangat menguat
Salah membaca salah arah salah kira
Berjejal dalam kalut Kelud tanda zaman
Sudah berakhir, sudah berakhir..

-Pril Huseno-
17 Februari 2014

Thursday, February 06, 2014

SAJAK-SAJAK MERINDU

Aku bicara padamu selirih ini
Dengan suara tanpa selaput
Ujung yang gemetar menahan cinta

Aku bisikkan padamu lagu-lagu
Meskipun rambutmu akan tergerai
Menutupi kedua telingamu,
Dan wajahmu,
Lembut rupawan

Lalu, menoleh engkau entah bagi siapa
Tapi, matamu memabukkan berkali-kali lagi sadarku
Engkau disana, sirna
Bahkan jarakpun melupakan hitungannya

Sebab manusia kerap bermimpi
Sebab, manusia kerap meminta
Sebab,manusia pula kerap tersungkur
Dengan lutut menunduk mencium bumi

Pizhou City, China, March 2010

SAJAK KEMILAU UNGU

Mawar ini kuselipkan di telingamu
Bagai romansa kisah-kisah lama
Yang berputar dalam piringan hitam usang

Hingga petang menjelang,
Pesona itu tetap mewangi
Dalam keteduhan asri wajahmu

Pun ketika dalam lelah
Engkau duduk
Beringsut butir-butir pasir halus pantai
Memberi ruang bagi kecantikan paripurna
Tuk melepas penat yang mendera

Angin lautpun turut bermanja
Tak sungkan hinggap
Membelai halus wajahmu
Mengukir jemarinya dikelebatan alis
Dan hidung bangirmu
Serta bibir merona merah....

Sementara itu, engkau sibuk menata siang
Dengan tatapan sepasang bola mata
Yang mampu membuat awan tersipu...
Dan berarak pergi, tak kuasa menanggung malu...

Lalu engkau, belahan jiwaku,
Mulai bercerita
Tentang apa adanya dalam jiwa..

Meriuh bunyi ombak berkejaran
Terdengar lirih suaramu terbawa angin nakal,
Dibalik gaun ungu serasimu
Terngiang ditelingaku
Engkau ingin selamanya disisiku...........


-Pril Huseno-

SUARA DARI POJOK PUTIH


Aku sudah tua, sudah menerabas tiga perempat usia
dan hidup kita tetap dalam kesahajaan ini
hidup yang membawa kita ke pojok dingin bersulam lapar
adalah cinderamata Tuhan bagi kepasrahan total kita..


Jangan menangis selama kita masih bersimpuh bersama 
menikmati hidangan demi hidangan yang telah kita 
habiskan bersama para penerus kita


Jangan pula berkata Tuhan tidak berpihak,
karena setiap helaan nafas kita adalah bukti keberpihakan Tuhan
pada orang kecil seperti kita..


September 2013

Singapore, May 2011

Sedang berbunga-bunga sayang?
kedatangan kenangan yang entah kapan dapat bersatu kembali....
merpati-merpati putih seakan turun dari langit
dan riuh mengepak sayap menyambut cerianya hatimu....
tapi aku yakin, tak akan kau gapai lagi harap yg dulu pernah timbul...
seiring waktu yang terus engkau lupakan dalam keseharianmu....
sungguh,
nikmatilah keindahan yg hanya dalam hitungan hari ini...
agar sayap-sayap cintanya
tidak lantas penat kehilangan makna...
waktu akan menyembuhkanmu,
sebagaimana hari-hari yang telah lalu....


-Pril Huseno-